Cerita · Review

Seasons to Remember

Gambar

“A Journal from 4 Seasons Tetralogy”

Bagi yang mengoleksi novel empat musim, Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo dan Spring in London, tentu tidak akan merasa asing dengan penulisnya, Ilana Tan.

Di awal tahun 2013, Ilana Tan menerbitkan sebuah buku yang mungkin menjadi akhir perjalanan novel empat musim.

Seasons to Remember, begitulah judul buku terbaru Ilana Tan. sayangnya, dibuku terbaru ini, Ilana Tan tidak bercerita seperti biasanya, Seasons to Remember hanya berisi quotes ‘menyentuh’ yang berasal dari novel empat musim sebelumnya. itu sebabnya saya tidak menyebut karya terbaru Ilana Tan sebagai novel, melainkan buku, hehehe.

Nilai plus untuk Seasons to Remember adalah bukunya yang full color, layout-nya juga disesuaikan dengan quote-nya, benar-benar membuat pembaca dibawa kembali ke masa-masa indah novel empat musim sebelumnya. Keromantisan yang terpancar dari setiap quote sangat terasa meskipun sedang tidak membaca novel aslinya. Pembaca di buat terlena sesaat, seolah dialah yang menjadi pemeran utamanya. Pembaca di buat larut oleh kesedihan dan kebahagian di setiap kalimat yang di tulis Ilana Tan.

Berikut bocoran quotes yang ada di buku Seasons to Remember:

“Lagi-lagi senyum itu. senyum yang bisa menghangatkan hati yang beku sekali pun” -Summer in Seoul

“Dalam bisbol ada sembilan pemain. Kurang satu saja tidak bisa. Sembilan artinya lengkap. Kenapa aku menyimpan nomor Sandy di nomor sembilan? Itu karena kalau dia ada, aku baru merasa benar, merasa lengkap. Dia nomor sembilanku” (Jung Tae Woo kepada Park Hyun Shik) -Summer in Seoul

“Aku tidak mengeluh. Setidaknya sedikit pengorbananku itu membuatnya senang” (Tatsuya Fujisawa di acara “je me souviens…”) -Autumn in Paris

“Bernapas ternyata bisa juga sangat menyakitkan” -Autumn in Paris

“Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia. Sesederhana itu” (Tatsuya Fujisawa kepada Sebastien Giraudeau) -Autumn in Paris

“Seharusnya ia tahu. Seharusnya ia sadar. Mimpi tidak akan bertahan lama. Ia boleh saja hidup dalam mimpi, tetapi cepat atau lambat kenyataan akan mendesak masuk. Dan ketika kenyataan mendesak masuk dan berhadapan denganmu, kau hanya bisa menerima” -Winter in Tokyo

“Dia tidak perlu melakukan apa-apa. Dia juga tidak perlu melakukan apa-apa. yang paling penting adalah kenyataan bahwa dia ada dan saya bisa melihatnya” (Nishimura Kazuto) -Winter in Tokyo

“Apakah kau benar-benar bisa berteman dengan orang yang bisa membangkitkan mimpi-mimpi terburukmu?” -Spring in London

“Aku bukannya ingin menghindarimu. Aku tidak akan bisa menghindarimu walaupun aku ingin” (Danny Jo kepada Naomi Ishida) -Spring in London

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s